Chapter 3

Diikuti Sang Pengagum 03


Dika melongo melihat kelakuan Kalia. Gadis itu unik sekali. Dia sama sekali tidak bisa membaca gebrakan gadis yang satu itu. Sepanjang hari, Dika menghabiskan waktu bersama Kalia, membaca novel, berbagi cerita. Baru kali ini Dika merasa memiliki seorang teman.

Tak terasa, mentari sudah hampir terbenam. Kalia pun berpamitan pada Dika.

“Sebaiknya kita pulang. Pasti orang tua ku mencariku. Sampai ketemu besok di sekolah, Dika!” seru Kalia sebelum pergi. Dika pun tersenyum dan mengucapkan sampai jumpa. Lalu ia kembali ke rumah.

Rumah Dika tidak jauh dari rumah pohon, hanya agak masuk ke dalam hutan. Rumahnya redup, dan berhawa tidak enak. Sama seperti kata orang-orang sekitar, ayah Dika adalah dukun. Seisi rumah penuh dengan sesajen dan barang-barang yang Dika sendiri tidak tahu apa. Bagi Dika, semua hal mistis ini hanyalah tipu daya ayahnya untuk mendapatkan uang dari orang-orang kaya. Tidak jarang para pemimpin datang jauh-jauh hanya untuk meminta petunjuk tidak masuk akal dari ayahnya, demi menjaga posisi politik, meningkatkan pendapatan, bahkan membuat pasangan jatuh hati pada mereka. Bagi Dika semua itu tidak masuk akal.

“Kau tampak lebih rileks hari ini,” ujar ayahnya yang duduk di depan perapian, “Siapa gadis itu?”

“Bukan siapa-siapa,” jawab Dika. Walau tidak masuk akal, tapi Dika percaya bahwa ayahnya tidak berbohong ketika mengatakan dia memiliki kesaktian untuk tahu apapun yang dilalui Dika.

“7 November.” Dika menahan napasnya, tanggal itu adalah tanggal yang sangat traumatis bagi Dika. Lelaki itu segera memasang telinga untuk mendengar apa yang ingin dikatakan sang ayah.

“Kematian kawanmu, Joseph. Tanggal itu adalah pertanda buruk untukmu, Dika,” sang ayah mengingatkan, “gadis itu berulang tahun di tanggal itu. Jauhi dia.”

Dika tertegun. Tangannya basah dan jantungnya berdegup kencang.

“Kami bukan teman,” jawab Dika ragu-ragu.

“Apapun yang kamu lakukan, jangan pernah ajak dia kemari.” Dika mengangguk dan segera pergi beristirahat.


Persahabatan antara Dika dan Kalia terus berlanjut, terjalin hari demi hari. Dika mengagumi bagaimana Kalia mampu menerima apapun yang aneh tentang dirinya. Semenjak Kalia hadir dalam hidupnya, Dika tidak lagi merasa sendirian dan terasing. Dika mulai menjalin pertemanan dengan siswa-siswi lainnya. Rumor buruk yang selalu menghantuinya, kini hampir sepenuhnya sirna.

“Dika, kita dapet tugas kelompok nih,” ujar Kalia.

“Berapa orang?”

“Tiga, aku, kamu sama Ratih,” jawab sang gadis sambil mengisyaratkan Ratih untuk mendekat, “Kita kerjain di rumahmu ya, Dika!”

Dika terdiam.

“Apapun yang kamu lakukan, jangan pernah ajak dia kemari.” Dika teringat akan ucapan sang ayah beberapa bulan yang lalu.

“Jangan, di rumahmu aja seperti biasanya,” pinta Dika.

“Eh! Jangan dong, di rumahku lagi ada keluarga besarrr, pasti ribut nanti. Kita gak bisa fokus!”

“Rumah Ratih?” 

Ratih menggeleng mendengar usulan Dika. “Jangan, rumahku 2 jam dari sini. Kalian inget, kan, kalo aku selalu berangkat jam 5 pagi setiap hari? Di rumah Dika aja!”

Dika gemetar, “Jangan.”

“Lah, kenapa sih?”

“Pokoknya jangan.”

“Kamu takut kita pegang-pegang barang mistis bapakmu, Dik?” tanya Ratih

“Bukan gitu.”

“Lalu kenapa???” Kalia bingung dan mendesak Dika.

“Intinya, tidak boleh ada yang datang ke rumah.”

“Ah, ayolah, Dik. Toh kita cuma mau nugas! Gak bakal kok kalo sentuh-sentuh perangkat persantetan ayahmu!”

“Iya lohh, masa kita sudah temenan lama tapi gak pernah main ke rumahmu. Sekali-sekali juga lahh!”

“Apa jangan-jangan kamu menyembunyikan sesuatu di dalam kamarmu?”

“Jampi-jampi?”

“Heh, bukan!” seru Dika. Lelaki itu menghela napas, “ayahku bilang kalau Kalia tidak boleh ke rumah. Nanti ada hal buruk yang terjadi.” Kalia bingung dan tidak percaya.

“Katamu, kau tidak percaya sama hal-hal seperti itu?” Kalia menggerutu.

“Iya, tapi tidak sepenuhnya tidak percaya.”

“Maksudmu?”

Dika menutup mata. Dia menjeda sebentar sebelum mulai menjelaskan. 

“Dulu, aku memiliki teman dekat. Joseph namanya. Dia meninggal sewaktu SD karena hanyut di sungai. Seperti yang selama ini kalian dengar, ini berhubungan dengan ayahku. Orang tua Joseph dulu tinggal di desa ini, menjadi ketua desa cukup lama. Mereka sering meminta nasihat pada ayahku. Aku tidak tahu pasti, tetapi jabatan mereka awet karena ikatan dengan hal-hal mistis.

“Suatu hari, orang tua Joseph tidak memberikan tumbal tepat waktu. Akibatnya sangat fatal, Joseph menjadi korban. Jiwa Joseph tidak pergi dengan tenang. Dia selalu mengikutiku kemanapun aku pergi. Dia marah besar kepada kedua orang tuanya dan ingin menggunakan tubuhku untuk berkomunikasi. Ada waktu dimana aku sering kerasukan arwah Joseph. Aku tidak ingat apapun saat itu terjadi. Yang aku ingat hanya wajah orang-orang sekitar tampak sangat ketakutan dengan apapun yang telah atau hendak aku lakukan. Karena khawatir, ayah memberiku penjaga. Semenjak itu, aku tidak pernah kerasukan lagi. Namun, kejadian itu tetap membuatku trauma.

“Aku tidak bisa membawa Kalia ke rumah, karena tanggal kematian Joseph sama dengan tanggal lahir Kalia, 7 November. Ayah percaya bahwa jika Kalia ke rumah, sesuatu yang buruk akan terjadi.”

Comments

Loading comments…