Chapter 4

Diikuti Sang Pengagum 04


Kalia tertawa.

“Dikaaaa, bukannya kamu gak percaya sama gituan, ya?” 

“Iya, aku gak percaya. Tapi aku cuma tidak mau hal buruk terjadi. Apa salahnya menghindari celaka?” mendengar penjelasan Dika, Ratih dan Kalia diam. Yang dikatakan Dika ada benarnya. Akhirnya mereka setuju dan memutuskan untuk mengerjakan tugas kelompok di sekolah saja.


Waktu berlalu dengan cepat. Sudah berbulan-bulan semenjak Dika menjelaskan apa yang terjadi pada Joseph. Kalia juga sudah melupakan kejadian waktu itu. Semua berjalan normal, hingga Dika berhenti datang ke sekolah. Dika memang selalu bolos sekolah di pertengahan hari. Tetapi, Dika tidak pernah absen sekalipun jadwal pagi hari. Dia selalu datang ke sekolah hanya untuk datang di jam pelajaran pertama, meminjam buku di perpustakaan, lalu cabut ke rumah pohon hingga jadwal sekolah berakhir. Kalia sempat mencoba datang ke rumah pohon tempat Dika selalu membaca buku. Tetapi Kalia tidak menemukannya.

“Ini sudah hampir sebulan Dika tidak masuk sekolah,” ujar seorang guru, “ada yang sudah menjenguk Dika?”

Seisi kelas tidak menjawab, termasuk Kalia.

“Walaupun kalian tidak begitu dekat dengan Dika, sebaiknya kalian mencoba menjenguknya. Ini menunjukkan bahwa kalian peduli padanya,” lanjut sang guru, “di sini, siapa teman dekat Dika?”

Semua murid menunjuk Kalia.

“Kalia, apakah kau mau menjadi perwakilan kelas untuk menemui Dika?”

Kalia mengangguk pelan. Hatinya gundah mengingat peringatan Dika. Tapi, Kalia jauh lebih khawatir akan kondisi Dika dibandingkan hal-hal mistis. Sepulang sekolah, Kalia mengajak Ratih untuk menemaninya ke rumah Dika. Ratih yang awalnya ragu, akhirnya mau untuk menemani Kalia.


Rumah Dika tampak kosong. Sama seperti yang pernah diceritakan Dika, rumahnya memang memiliki hawa aneh. Ratih memberanikan diri untuk mengetuk pintu.

Tok Tok Tok…

“Dika?” seru Ratih.

Tidak ada jawaban.

“Dikaaa!!” seru kedua gadis itu bersamaan. Mereka terus mengetuk, tetapi tidak mendapatkan jawaban. Hampir setengah jam mereka berdiri di luar tanpa ada jawaban. Sampai akhirnya Ratih menyerah.

“Kal, aku pulang dulu ya. Kayanya Dika emang ga ada di rumah. Serem juga lama-lama disini.”

“Eh, jangan tinggalin aku disini Tihhh, aku juga takut.”

“Mending kita pulang deh yaa?”

Sebelum Kalia mengangguk setuju, tiba-tiba terdengar suara kunci pintu terbuka.

KLEK!

“Eh?! Denger tuh!! Pintunya kebuka!” seru Kalia. Ratih ikut mengangguk. Keduanya segera mendekat ke arah pintu sekali lagi. Pintu perlahan terbuka, tetapi tidak ada orang.

“Dika???” seru Kalia lagi.

“Kal, kok ga ada orang ya? Terus siapa yang buka pintu ini?” Ratih mulai gemetar.

“Dikaa? Kamu di rumah?” Kalia masuk ke dalam rumah, diikuti Ratih yang mengekor di belakang. Suasananya terasa sangat tidak enak. Hawa gelap terasa dari setiap sudut rumah. Kalia dan Ratih memanggil-manggil nama Dika, tetapi tetap tidak ada jawaban.

“Kalian mencari siapa?” terdengar suara nyaring dan langkah kaki dari arah ruang keluarga.

“Dika nya ada di rumah, Tante?” tanya Kalia.

“Kenapa mencari Dika?”

“Dia sudah gak masuk sekolah hampir sebulan, Tante. Kami takut dia kenapa-kenapa.” Tidak ada jawaban.

“Kal, mending kita cabut deh sekarang,” bisik Ratih.

“Sini, duduk dulu disini, Dika masih di luar,” seru suara itu lagi. Kini suaranya terasa sangat dekat dari mereka berdua. Kalia menoleh dan hampir berteriak karena terkejut. Tampak sosok wanita pertengahan 40 yang tampak sangat pucat dan mengenakan gaun putih. Sosok wanita itu tepat berada di belakang mereka, menawarkan Kalia dan Ratih untuk masuk ke dalam.

“Dika keluar kemana, Tante?” tanya Kalia.

Comments

Loading comments…