Chapter 2
Diikuti Sang Pengagum 02
12 Tahun yang lalu…
“Stt, jangan keras-keras. Nanti dia dengar. Anak itu aneh sekali,” bisik seorang gadis pada teman-temannya.
“Aku dengar ayah Dika adalah seorang dukun. Siapapun yang berurusan dengan Dika, bisa celaka! Sudah banyak buktinya!” timpa yang lain.
“Iya, dulu teman SDku ada yang sampai hanyut di sungai karena membuat Dika menangis. Kuharap aku tidak sekelas dengannya tahun depan. Aku takut tiba-tiba diteror oleh ayahnya!”
Mau bagaimanapun Dika menutup telinga, suara gosip yang beredar di lingkungannya tidak bisa diredam sepenuhnya. Ia hanya bisa mengalihkan perhatian pada hal lain agar gosip-gosip itu tidak menghantui dirinya.
‘Semua ini karena Ayah,’ batin Dika. Ia mengambil secarik kertas dan menulis nama-nama orang yang mengatakan hal-hal buruk tentangnya. ‘Untuk mengurangi rasa benciku pada mereka,’ tulisnya.
“Aku takut sekali!” bisik seseorang, “aku lihat Dika menulis nama-nama kita di suatu kertas. Huhuhu, kita mau diapakan ya?”
“Kita ga akan disantet, kan?”
“Mending kita jangan bahas dia lagi!”
“Gak bisa gitu dong! Emang kita ngapain? Kita gak pernah mengusik dia!” Salah satu remaja di antara mereka mulai naik pitam. Walau agak takut-takut, dia tetap mendekat ke arah Dika. Digebraknya meja kayu tempat Dika menulis.
“Ngapain kamu nulis nama kami?!” bentak nya. Dika hanya diam dan lanjut menulis.
“Kamu denger gak sih? Telingamu bermasalah ya?!” Sekali lagi, Dika diam. Tidak ada yang dilakukannya selain lanjut menulis. Dika sudah terbiasa untuk mengacuhkan orang lain. Kendati demikian, Dika takut. Tulisannya yang biasanya rapi dan ringan, malah tampak sedikit ditekan. Warna yang dihasilkan dari tinta bolpoin semakin lama semakin pekat. Tangannya gemetar sedikit demi sedikit.
“Awas saja kalau kamu mau mencelakai kami! Ayahku adalah kepala sekolah di sini! Kamu dan ayah kesayanganmu itu bisa kena masalah besar.” Setelah menggertak, gerombolan remaja itu pergi ke kantin untuk beristirahat.
Dika menghela napas lega setelah mereka pergi. Ia keluar dari kelas, meremas kertas buram berisi nama orang-orang yang menyakitinya beserta apa yang mereka katakan. Lalu dibuangnya kertas itu ke sembarang tempat.
“Kau menjatuhkan sesuatu,” ujar seorang gadis, “Jangan biasakan buang sampah sembarangan, ya.” Dika menoleh. Seorang gadis berambut hitam panjang, sedang mengomel. Dibukanya kertas itu, lalu gadis itu terkejut.
“Ratna mengatakan bahwa ayahku seorang dukun? Rendi memfitnah kematian Joseph padaku, Sarah menggebrak meja?” gadis itu membaca tulisan Dika dengan kebingungan, “mereka membully mu?”
Dika tidak merespon dan segera angkat kaki. Dika berjalan ke arah perpustakaan. Ia mengambil beberapa buku secara acak, lalu berjalan santai ke belakang sekolah. Sesampainya di bagian paling belakang yang tidak terjaga, Dika memanjat tembok dan dia kabur dari sekolah. Bukan sekali dua kali Dika bolos sekolah. Hampir setiap hari dia pergi setelah pukul 09.00. Dika menepi ke dekat sawah. Berbelok menyeberangi sungai, melalui jalan setapak kecil hingga sampai ke sebuah rumah pohon. Dika naik ke atas dan duduk di sana untuk menenangkan diri.
Angin berhembus, membuat Dika sedikit lebih tenang. Dia mulai mengambil buku yang dibawanya dan segera membaca. Hanya di tempat ini Dika merasa diterima. Hanya di balik lembaran-lembaran kisah novel, di keheningan dalam hutan, di kesendirian, Dika merasa memiliki segalanya. Petualangan, kebahagiaan, dan teman sejati.
“Dika?”
Lelaki itu terkejut. Gadis tadi mengikutinya hingga kemari.
“Mau apa kau?” tanya Dika setengah marah.
“Aku hanya memastikan, apa kau tidak apa-apa?” tanyanya. Dika hanya diam, memperhatikan gadis itu lekat-lekat.
“Aku Kalia,” tambahnya, “anak baru di kelasmu.” Kalia tersenyum manis. Dika berusaha memproses apa yang terjadi. Baru kali ini ada orang yang secara sukarela berkenalan dengannya.
“Aku mendengar beberapa orang di kelas kita membicarakanmu. Aku jadi sedikit penasaran. Apakah mereka membully mu? Apa kau baik-baik saja?” Belum sempat Dika menjelaskan, Kalia melanjutkan, “Maukah kamu menjadi temanku?”
Comments
Loading comments…