Chapter 1
Diikuti Sang Pengagum 01
Kalia berjalan menyusuri gang gelap dengan buru-buru. Berjalan menerjang gerimis cukup untuk membuat seluruh tubuhnya basah kuyup. Kalia lupa untuk membawa payung. Kabar buruknya, ia masih harus menempuh 500 meter lagi sebelum sampai ke rumah kos yang berada jauh di kompleks pemukiman warga. Dengan sedikit berlari, ia menarik tas kerjanya ke atas kepala. Walau sia-sia, setidaknya Kalia mampu untuk menutupi kepala dari air hujan. Hatinya melayangkan doa supaya tidak sakit di esok hari.
Beberapa menit kemudian, Kalia sampai di depan rumah sederhana berlantai 6. Ia segera membuka gerbang hitam bermotif floral, menguncinya, dan bergegas menuju tangga. Kalia sadar ia meninggalkan jejak air di lantai yang dapat membuat Mbok Ratna, penjaga kos, memarahinya. Sayang sekali, Kalia tidak punya pilihan. Ia berniat untuk membersihkannya nanti. Badannya sudah menggigil karena cuaca dingin. Kalia hanya bisa membayangkan untuk segera mandi dengan air hangat, menyeduh teh hangat sambil makan lalapan ayam setengah basah yang dibelinya sepulang kerja.
Lantai 3 terasa sangat jauh. Kalia terengah-engah setiap menaiki satu tangganya. Sejenak, ia memutuskan untuk berhenti dan bernapas.
“Mbak Kalia?” panggil seorang yang kebetulan sedang turun. Dia adalah tetangga Kalia dari lantai yang sama, tubuhnya kekar. Walau agak pendek, Andre memiliki wajah yang sangat tampan. Setidaknya itu yang selalu dipikirkan oleh Kalia.
“Eh! Andre!” sapa Kalia.
“Kehujanan, Mbak?” Lelaki itu tertawa kecil melihat Kalia yang terlihat basah kuyup dan menggigil.
“Hehe, iya,” jawab Kalia malu-malu.
“Oh iya, tadi ada teman cowok Mbak kasih titipan,” sela Andre, “Karena Mbak belum pulang kerja, jadi saya cantolin di pintu kamar.”
‘Teman cowok? Siapa?’ Kalia agak kebingungan, “Siapa, ya, kalo boleh tahu?”
“Tadi orangnya engga sebut nama, Mbak. Cuma nitip barang saja ke saya, minta tolong untuk diberikan ke Mbak Kalia,” terang Andre. Kalia pun hanya dapat berterima kasih dan menuju kamarnya.
Kamar Kalia berada di paling dekat dengan tangga. Seperti yang dibilang oleh Andre, paket dari temannya bergelantung di gagang pintu. Kalia meraihnya, isi kresek itu berbentuk balok dan terasa padat. Di sisi kresek terdapat notes yang di jepret dengan stapler, tulisannya, ‘Dari temanmu’
Kalia bingung, tetapi rasa lelah sudah menjalar ke seluruh tubuhnya. Ia ingin segera beristirahat. Ia menunda rasa pusing dan penasaran berkaitan dengan pengirim paket. Kalia pun membuka pintu kamar.
DEG!
Aneh. Lampu kamarnya menyala. Kalia terdiam sejenak. Tidak biasanya ia membiarkan lampu menyala sebelum keluar dari kos. Tapi perasaan itu segera ditepisnya, mungkin Kalia lupa karena buru-buru berangkat kerja. Kalia menggelengkan kepala, ia lalu menaruh barang-barang yang dibawanya di atas meja dekat jendela. Setelah itu, Kalia langsung menuju kamar mandi dan membasuh diri.
“Teman cowok, ya?” gumam Kalia sambil membiarkan air hangat dari shower mengalir membasahi tubuhnya. “Siapa?”
Kehangatan membuat Kalia merasa nyaman dan ingin berlama-lama di kamar mandi. Pikirannya mulai rileks dan ia mulai bertanya-tanya terkait paket yang diterimanya. Kalia memiliki beberapa teman laki-laki semasa kuliah. Namun dia sudah lama tidak mengobrol dengan mereka. Apalagi setelah bekerja, seluruh perhatiannya hanya berfokus tentang cara menghasilkan profit bagi perusahaan. Sangat jarang ia berdiskusi dengan rekan kerja lelaki. Apalagi sampai membahas hal privasi seperti tempat tinggal. Kalia menyimpulkan bahwa siapapun itu, bukan rekan kerjanya.
Selesai mandi, Kalia menyeduh teh dan menyantap makan malamnya. Ia belum membuka paket tersebut, Kalia hanya memandangi paket aneh itu sambil bertanya-tanya. Kalia memperhatikan notes itu cukup lama, sampai dia menyadari bahwa kertas itu tidak hanya satu lembar bertuliskan ‘Dari temanmu’
Kalia merobek kertas dari kresek itu. Lalu ia membaliknya. Benar saja, kertas itu memiliki pesan rahasia.
.- -.- ..- / -- . -- .--. . .-. .... .- - .. -.- .- -. -- ..- / ... . - .. .- .--. / .-- .- -.- - ..-
Morse.
Artinya, “Aku memperhatikanmu setiap waktu.”
Bulu kuduknya berdiri. Kalia segera meraih isi dari kresek itu. ia menyobek bungkus kertas kado hitam yang menyelimutinya dan mendapatkan sebuah kotak berisi album, sebuah kalung, potongan rambut, beberapa surat cinta, dan sebuah patung yang menyerupai dirinya. Kalia membeku. Hanya satu orang yang cukup gila dan memiliki waktu untuk melakukan semua ini,
“Dika…”
Comments
Loading comments…