Chapter 1
Wisuda Ini Untukmu
Lagu tahun 2000-an berputar satu per satu, menggema di telinga Ezra. Membawanya jauh ke dalam pikiran yang gelap dan dingin. Memerangkapnya di ruang hampa selama berjam-jam, memaksa Ezra memerangi penyesalan yang kerap kali menghantui. Entah sudah berapa lama Ezra melamun dalam kesendirian dengan ditemani playlist lagu galau dari HP-nya. Yang jelas, langit sudah mulai kemerahan. Tak lama lagi, mentari akan sepenuhnya tenggelam. Untuk kesekian kalinya, Ezra menepis pikiran yang menyelimuti benaknya. Ia harus fokus. Besok adalah hari penting untuknya. Dia tak boleh membiarkan perasaan negatif mempengaruhinya.
“Kak,” panggil adiknya, Laura, “yakin ga mau dibeliin buket ikan asin?”
“Kita udah bahas ini, kan?” jawab Ezra sambil memutar bola matanya, “Mambu!”
“Ya ya ya, terserah. Toh aku cuma nawarin, kan? Padahal aku baru nemu toko buket yang mau buatin” Laura yang kesal dengan sikap kakaknya itu pergi menuju mobil. Tempat sang Ayah menunggu. Sebelum malam tiba, Laura dan sang Ayah harus kembali ke penginapan.
“Hati-hati ya!” seru Ezra.
“Sampai ketemu besok!!” Gadis itu melambaikan tangan dari dalam mobil. Berusaha terlihat gembira untuk menyemangati kakaknya yang akan wisuda esok hari.
“Yaa, jangan terlambat.”
“Iya-iya!” gerutu Laura. Setelah keluarganya pergi, Ezra kembali ke dalam kosnya. Masuk menuju kamar di ujung lorong dan merebahkan diri di kasur. Kalau dipikir-pikir, banyak yang sudah terjadi dalam kurun waktu 4 tahun ini. Proses pendewasaan gila-gilaan yang harus ditempuh oleh Ezra, jatuh bangunnya kehidupan. Semua kenangan itu kini melebur jadi satu dan membuat Ezra bingung dengan perasaan yang kini dirasakannya. Seperti, apa rasanya berada di ujung kehidupan? Hal apa yang menantinya setelah dinyatakan lulus sebagai mahasiswa? Beruntung sekali, sebelum sempat Ezra ditelan oleh pikirannya sendiri, telepon berdering.
“Halo,” seru perempuan di telepon.
“Iya, halo,” jawab Ezra sambil berguling-guling di kasur.
“Gak kumpul bareng arek-arek ta, mas?” Ezra tidak menjawab pertanyaan itu. Keheningan yang canggung muncul selama beberapa detik. Ezra bisa mendengar decak kesal dari sang gadis. Sudah jelas gadis itu lelah meladeni tingkah Ezra yang begini.
“Mas, kalo ada masalah, ojo dipendem dewe ta! Kebiasaan iki!” Ezra tersenyum mendengar pacarnya. Ia senang ada yang peduli. Sayang sekali, mendapatkan perhatian dari orang-orang yang berharga justru membuat Ezra merasa terbebani.
“Ga kok, santai ae,” kata Ezra, “aku lagi males keluar. Pengen istirahat. Besok ae seneng-senenge.”
“Sungguan, tah? Gak bohong?” Ezra tertawa kecil, berusaha membuatnya tidak khawatir. Tidak ada pembicaraan lanjutan. Setelah gadis itu menutup telepon, Ezra menghela napas. Ia berjalan menuju satu-satunya meja belajar di kamar. Kemudian, ia menarik laci kecil dan mengeluarkan sebuah foto hitam putih. Foto itu sangat tua, mungkin usianya hampir sama dengan Ezra sendiri. Setiap kali merasa terbebani, Ezra selalu memandang foto ini. Foto yang digenggamnya memiliki sejarah panjang nan berharga bagi Ezra. Tampak di dalamnya seorang wanita paruh baya tengah menggendong bayi kecil. Yap! Benar sekali, itu adalah foto Ibu dan Ezra kecil. Air mata lolos dari sudut mata Ezra. Teringatlah dia akan berbagai kisah di masa lalu. Semua berhamburan menyerbu benak Ezra sama seperti film layar lebar yang dinyalakan bersamaan. Semua memori itu indah dan menyenangkan. Ya, hampir semua kecuali yang satu itu.
Tepatnya 4 tahun lalu, Ezra terpaksa meninggalkan masa pengenalan lingkungan kampus untuk alasan yang tidak jelas dari Ayahnya. Ezra menggerutu dan sempat menolak untuk pulang. Perdebatan pun terjadi di telepon. Terdengar cukup banyak kata kasar dan menyakitkan. Ayah memaksa Ezra dan ia tidak punya pilihan lain selain mematuhi perintah Ayah. Dengan berat hati, Ezra bersiap pulang. Hanya berbekal dompet, HP, dan charger, dia langsung mendatangi stasiun dan memesan tiket pulang. Tidak ada yang mengabarinya. Tidak ada yang memberitahunya apa-apa. Ia hanya diminta untuk datang ke rumah sakit dan menuju ke ruang yang disebut oleh Ayah. Begitu terkejutnya Ezra ketika ruangan itu sudah dipenuhi oleh keluarga besarnya. Ezra mencari sosok Ayahnya di tengah kerumunan. Beliau tampak berlutut di sisi kasur, memegangi jemari tak bernyawa dari wanita yang dicintainya. Hati Ezra terasa remuk dan hancur. Ia melihat tubuh pucat Ibunya dengan alat pacu jantung yang baru dimatikan.
“Kenapa dihentikan, Yah? Aku… baru sampai, Ibu masih bisa selamat,” ujar polos Ezra waktu itu. Kata dokter, sudah terlambat. Ayah mengangguk penuh duka, membiarkan Tuhan membawa istrinya ke tempat yang lebih baik. Tangis memenuhi ruangan. Ezra belum sepenuhnya memahami keadaan. Ia berdiri hampa di depan jasad sang Ibu. Melihat Ezra yang belum bisa menerima keadaan, Laura mengamit tangan kakaknya. Mereka berdua mengiringi kepergian Ibunya dengan penuh duka.
Semua terjadi begitu cepat, pemakaman dilaksanakan segera di keesokan hari. Rumah Ezra dipenuhi duka. Tangis terdengar di setiap pojok ruangan. Kerabat datang bergilir untuk berbela sungkawa. Menyampaikan perasaan duka dan memberi penguatan bagi Ezra sekeluarga. Siang dan malam silih berganti. Waktupun berjalan, sampai semua kembali seperti sedia kala. Kembali pada aktivitas semula. Kehidupan berlanjut seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Begitu pula Ezra, kembali ke Surabaya menempuh pendidikan. Semuanya tampak normal. Jika kita melihatnya sekilas, semua tampak baik-baik saja. Namun, sesuatu jelas berubah sejak hari itu. Ezra sering merasa hampa, begitu pula dengan Laura dan Ayahnya.
Ezra menjumpai dirinya berulang kali merenungkan makna kehidupan. Tak jarang ia merasa hilang arah. Sama seperti yang dilakukannya saat ini. Ezra menghela napas, membawa fokusnya kembali pada kenyataan. Terdengar suara telepon berdering lagi. Kali ini, yang menelepon adalah Laura.
“Kak, are you okay?” Sama seperti sebelumnya, tidak ada jawaban. Jujur saja, Ezra tidak tahu bagaimana harus bersikap jika yang bertanya adalah adiknya sendiri.
“Mhm,” gumam Ezra.
“Bagaimana perasaan kakak?” tanya Laura sambil berbisik.
“Hmm, campur aduk?” Bagaimana tidak? Wisuda di hari peringatan kematian Ibunya agaknya kurang cocok. Laura juga merasakan hal yang sama.
“Lucu ya, bagaimana waktu terus berjalan,” suara Laura terdengar pecah. Ezra mendengar tanpa suara. Ia ingin Laura melanjutkan ceritanya. “Kau tahu kak? Hari ini, empat tahun lalu aku melukai hati Ibu. Hari itu, pikiranku penuh beban. Aku diselimuti rasa takut. Aku sendirian di ruang opname, menunggui Ibu saat kakak kuliah dan Ayah bekerja.” Ezra dapat mendengar suara isakan. Ia bisa merasakan luka yang tersayat dalam di hati Laura. Sedikit banyak, Laura memang menyalahkan ketidakhadiran kakak dan Ayahnya di saat ia membutuhkan mereka.
“Ibu gak mau minum obat. Padahal obat kanker tentunya punya efek yang besar. Kalau Ibu ga minum obat, aku takut beliau-” suara Laura terputus oleh tangisan, “aku marah dan mengacuhkan Ibu. Padahal Ibu memanggilku berulang kali. Tapi aku diam karena marah dan takut. Ibu terus memanggilku dalam kondisi rancau. Ibu meminta maaf, Ibu ingin agar aku tidak marah padanya. Aku… Aku membiarkan Ibu merasa aku membencinya.” Ezra sadar betapa rapuhnya Laura saat itu. Dia masih SMP dan harus mengurus Ibunya yang sakit berat. Ezra sangat salut padanya. Laura sudah berjuang semampu yang dia bisa dan ia tidak pantas untuk terus menyalahkan dirinya seperti ini. Ezra tahu seperti apa rasa sayang antara Ibu dan putrinya itu.
“Engga,” ujar Ezra menenangkan Laura, “Ibu tahu kamu menyayanginya.” Keheningan menyelimuti keduanya. Hanya sesekali Ezra mendengar isakan Laura.
“Sama sepertimu, aku juga punya banyak penyesalan,” kata Ezra sambil mengelus dadanya yang terasa ditikam oleh ribuan pisau, “selalu diliputi oleh rasa bersalah karena ga peduli sama kesehatan Ibu. Aku sering membayangkan, jika waktu terulang aku bakal ngehabisin waktu lebih banyak dengannya. Terus berada di sisinya seperti yang kamu lakukan.”
“Haahhh, aku benci perasaan bersalah ini,” Laura terkekeh hambar, “kakak ingat waktu kakak keterima SBMPTN? Ibu tersenyum bahagia waktu itu!” Memori bahagia muncul di benak mereka. Tampak seorang wanita yang tersenyum, melupakan penyakit yang menjalar di tubuhnya untuk merayakan keberhasilan putranya. Ezra mengingatnya seperti baru kemarin.
“Iya, Ibu bilang kalau bakal nemenin di Surabaya sampai aku lulus. Hehe.”
“Ibu juga bilang mau beliin buket bunga kalau kakak wisuda!” Keduanya tersenyum. Masing-masing membayangkan sosok Ibu hadir di dekat mereka. “Itu artinya, besok kita harus bahagia. Karena besok adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh Ibu, kan?”
Ezra menangkap maksud Laura. Gadis itu benar. Ibu ingin Ezra menempuh pendidikan setinggi-tingginya dan menjadi orang yang bermanfaat bagi sekitar. Wisuda ini bukan hanya untuk mewujudkan mimpi Ezra. Wisuda ini juga untuk Ibu mereka. Karena itu, Ezra harus bahagia. Karena Ibunya pasti akan melihatnya dengan rasa bangga dari atas sana.
“Kak, Ibu pasti bangga sama kakak. Udah sampai sejauh ini dan ga pernah berhenti berjuang.” Mendengar itu, air mata lolos dari sudut mata Ezra. Setelah sekian lama, lelaki ini akhirnya merasa lebih tenang.
“Ibu juga pasti bangga sama kamu. Kamu tumbuh jadi gadis yang kuat dan dewasa.”
“Kurasa begitu,” Laura setuju, “dah, sana tidur. Awas ya kalo besok telat!”
“Hahaha!!”
Hari wisuda pun tiba.
“Ezra Daniel Mahendra lulus dengan predikat cumlaude!” Suara tepuk tangan terdengar dari bangku penonton. Ezra maju dan menerima ijazah. Dari tempatnya berdiri, ia melihat semuanya. Pacarnya, Ayah, Laura, dan foto Ibunya tersenyum di samping buket bunga yang dibawa Laura. Mereka terlihat bahagia dan penuh haru. Kali ini, Ezra tidak lagi kehilangan arah. Kakinya menapak selangkah maju untuk memaknai kehidupan yang diberikan Tuhan kepadanya.
-TAMAT-
Comments
Loading comments…